Kemenkes Minta Pemda Genjot Jumlah Testing Covid-19

Nakes Lakukan Swab Test (Beritanusa.id/Ist)

sajabar.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia meminta para Kepala Dinas Kesehatan, baik Provinsi dan Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia soal peningkatan jumlah testing dan tracing Covid-19 di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu, dalam rilis Kementerian Kesehatan, Senin (26/7) menjelaskan bahwa hal ini merupakan bagian percepatan untuk menemukan kasus terkonfirmasi maupun kontak erat kasus positif COVID-19 dengan harapan dapat menekan terjadinya kasus perburukan yang kerap menimbulkan kematian.

Bacaan Lainnya

“Penguatan testing dan tracing ini, akan diutamakan bagi wilayah-wilayah dengan mobilitas masyarakat dan tingkat penularan kasusnya tinggi, sehingga dengan mengetahui kasus lebih cepat, maka bisa segera dilakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi laju penularan virus,” tuturnya,

Disamping penguatan testing, Kementerian Kesehatan akan memperketat penanganan kontak erat agar tidak menjadi sumber penularan di tengah masyarakat.

“Untuk meningkatkan pelacakan kontak, seluruh orang yang tinggal serumah dan bekerja di ruangan yang sama dianggap kontak erat serta wajib dilakukan pemeriksaan (entri tes) dan karantina sampai hasil tes dinyatakan negatif” kata Dirjen Maxi.

Selain mengidentifkasi seluruh orang yang memiliki riwayat interaksi langsung dengan kasus positif, pelacakan kontak erat juga akan diidentifikasi dari orang-orang yang satu perjalanan, satu kegiatan keagamaan/sosial (seperti takziah, pengajian, kebaktian, pernikahan), dan riwayat makan bersama.

Sebagai informasi, kebijakan tentang penguatan Tracing & Tracking Suspek Covid-19 ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor : H.K.02.02/II/1918 /2021 tentang Percepatan Pemeriksaan dan Pelacakan Dalam Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang ditetapkan pada tanggal 23 Juli 2021.

Dalam aturan tersebut merinci bahwa daerah yang masuk kategori PPKM level 3 dan 4 diperbolehkan menggunakan hasil pemeriksaan test Rapid Antigen (RDT-Ag) sebagai diagnosa untuk pelacakan kontak erat maupun suspek, dan bisa juga dipakai sebagai data dukung dalam pengajuan klaim COVID-19.

Penggunaan RDT Antigen diutamakan bagi daerah yang alat diagnosisnya terbatas, sehingga hasilnya bisa diketahui lebih cepat dan tes dapat dilakukan secara masif sehingga dapat mempercepat tracing.

Seseorang yang teridentifikasi sebagai kontak erat baik yang bergejala maupun tidak bergejala, diwajibkan mengikuti pemeriksaan entry dan exit test.

Jika dalam proses pelacakan ditemukan kasus terkonfirmasi positif COVID-19, maka pasien dengan gejala ringan dan tidak bergejala akan langsung diisolasi di tempat isolasi terpusat yang telah disediakan.

Sementara, pasien gejala sedang dan berat akan dibawa ke fasyankes untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. (Yd/Kemenkes)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.